Dampak Perkembangan IPTEK Terhadap Kelestarian Hutan dan Sumber Daya Laut

Pengertian IPTEK

Iptek merupakan segala sesuatu yang diketahui mengenai pengetahuan suatu bidang yang disusun sistematis yang dapat dgunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu di berbagai bidang dengan menggunakan teknologi-teknologi yang ada.Ilmu pengetahuan muncul sebagai akibat dari aktivitas untuk pemenuh kebutuhan hidup manusia,baik kebutuhan jasmani maupun kebutuhan rohani. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak dapat bisa di pisahkan dari kehidupan kita. Seperti pada lingkungan hidup seringkali kita menghubungkan dengan iptek karena memang sesungguhnya lingkungan itu membutuhkan iptek untuk menjadikan lingkungan ini lebih baik.Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak dapat bisa di pisahkan dari kehidupan kita. Karena banyak sekali kebutuhan hidup kita yang dapat dipenuhi oleh adanya iptek.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia tertinggal jauh dan sangat memprihatinkan dibanding Negara-negara Eropa dan Amerika Serikat bahkan juga tertinggal di Negara-negara Asia misalnya Jepang dan China. Misalnya pada pertanian, pada bidang pertanian dibutuhkan beberapa teknologi seperti alat pembajak sawah dan pupuk sehingga menjadikan bidang pertanian lebih bekerja dengan cepat karena menggunakan alat pembajak sawah serta dengan pupuk diharapkan dapat lebih menyuburkan tanaman pada lahan pertanian. Jadi jika perkembangan iptek sudah cukup baik dan mencakup berbagai bidang maka akan dapat membantu dan memudahkan dalam mengerjakan sesuatu.

Fungsi Laut

Laut merupakan salah satu sumber daya alam yang harus dijaga kelestariannya. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa dalam kehidupan kita banyak mengambil manfaat dari laut. Indonesia merupakan Negara yang memiliki luas laut lebih besar daripada luas daratan, sehingga Indonesia disebut dengan Negara bahari. Sebenarnya Indonesia memiliki potensi sumber daya kelautan lebih besar daripada sumber daya alam yang ada di darat. Namun sejauh ini pendayagunaan potensi tersebut masih belum optimal. Hal ini tejadi salah satunya dikarenakan masih besarnya pengaruh paradigma pembangunan Indonesia yang masih berorientasi pada sumber daya alam di darat. Akibatnya produktifitas kelautan Indonesia hingga saat ini masih tergolong randah.

Secara umum fungsi laut adalah untukmenutupi permukaan tanah yang sangat luas. Lain dari itu fungsi laut adalah sebagai sumber penghasilan yang selama ini kita gunakan, baik di sektor negara maupun rumah tangga. Selain itu laut juga memiliki manfaat yang dapat diambil oleh manusia untuk kelangsungan hidupnya. Manfaat laut antara lain adalah untuk transportasi sehingga memudahkan perdagangan, baik antar pulau dalam negeri maupun dengan negara lain. Selain itu juga dilaut kita dapat gunakan sebagai mata pencaharian yaitu sebagai nelayan karena dilaut banyak ikan yang dapat ditangkap. Hasil dari tangkapan ikan tadi dapat digunakan sebagai bahan makanan yaitu sebagai lauk-pauk yang penuh dengan protein. Dan juga hasil tangkapan ikan dapat dijual sebagai sumber pendapatan.

Sebagai contoh konkrit adalah adanya terumbu karang sebagai hasil laut. Terumbu karang memiliki fungsi dan manfaat tersendiri bagi para nelayan yaknisebagai daerah tangkap ikan (fishing ground) nelayan tradisional. Secara alami, terumbu karang merupakan habitat bagi banyak spesies laut untuk melakukan pemijahan, peneluran, pembesaran anak, makan dan mencari makan (feeding & foraging), terutama bagi sejumlah spesies yang memiliki nilai ekonomis penting. Dan masih banyak lagi kekayaan – kekayaan laut yang ada.

Fungsi dan Manfaat Hutan

Selain laut, hutan juga termasuk salah satu sumber alam yang harus dijaga kelestariannya. Hutan merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan. Karena hutan memberi sumber kehidupan dan keseimbangan lingkungan bagi makhluk hidup, termasuk manusia. Hutan merupakan penghasil kayu. Maka itu hutan dipandang memiliki fungsi ekonomi. Sedangkan secara ekologis, hutan bermanfaat dalam mempertahankan kesuburan tanah, mencegah terjadinya erosi atau banjir, dan sebagai tempat mempertahankan keanekaragaman hayati.Secara klimatologis, hutan berfungsi sebagai penghasil oksigen dan pengatur iklim. Termasuk sebagai pengatur tata air tanah, penyimpan air tanah, dan mencegah masuknya air laut.

Menurut Puryono dan Hastuti (1998) dalam Sibarani (2003), hutan memiliki manfaat yang sangat besar terhadap peningkatan kualitas lingkungan dan kehidupan masyarakat, antara lain:

  1. Manfaat estetika, hutan yang ditumbuhi oleh berbagai tanaman memberikan nilai estetika karena hijaunya hutan tersebut dengan aneka bentuk daun, cabang, ranting dan tajuk serta bunga yang terpadu menjadi suatu pemandangan yang menyejukkan.
  2. Manfaat ekologis, yaitu tercapainya keserasian lingkungan antara tanaman, satwa maupun manusia dan sebagai habitat satwa, seperti burung-burung serta perlindungan plasma nutfah.
  3. Manfaat klimatologis, yaitu terciptanya iklim mikro, seperti kelembaban udara, suhu udara, dan curah hujan sehingga dapat menambah kesejukan dan kenyamanan serta tercapainya iklim yang stabil dan sehat.
  4. Manfaat hidrologis, hutan dengan perakaran tanaman dan serasah mampu menyerap kelebihan air pada musim hujan sehingga dapat mencegah terjadinya banjir dan menjaga kestabilan air tanah, khususnya pada musim kemarau. Hujan yang mengandung H2SO4 atau HNO3 apabila jatuh di permukaan daun akan mengalami reaksi. Pada saat permukaan daun mulai dibasahi, maka asam seperti H2SO4 akan bereaksi dengan Ca yang terdapat pada daun membentuk garam CaSO4 yang bersifat netral. Dengan demikian air hujan yang mengandung pH asam melalui proses intersepsi oleh permukaan daun akan dapat menaikkan pH, sehingga air hujan yang jatuh menjadi tidak begitu berbahaya lagi bagi lingkungan.
  5. Manfaat protektif, pepohonan di hutan berfungsi sebagai pelindung dari pancaran sinar matahari dan penahan angin. Serta pohon dapat meredam kebisingan dengan cara mengabsorpsi gelombang suara oleh daun, cabang dan ranting. Jenis tumbuhan paling efektif untuk meredam suara ialah tumbuhan dengan tajuk lebat dan rindang, strata yang cukup rapat dan tinggi. Kota yang terletak di tepi pantai, seperti kota Jakarta pada beberapa tahun terakhir terancam oleh intrusi air laut. Pemilihan jenis tanaman dalam pembangunan hutan kota pada kawasan yang mempunyai masalah intrusi air laut harus dengan teliti diperhatikan. Dikarenakan penanaman tanaman yang kurang tahan terhadap kandungan garam yang tinggi akan mengakibatkan tanaman tidak dapat tumbuh dengan baik, bahkan mungkin akan mengalami kematian. Dan juga penanaman dengan tanaman yang mempunyai daya evapotranspirasi tinggi terhadap air tanah dapat mengakibatkan konsentrasi garam air tanah akan meningkat. Sehingga upaya untuk mengatasi intrusi air laut melalui hutan kota dengan tanaman yang daya evapotranspirasinya rendah untuk meningkatkan kandungan air tanah.
  6. Manfaat higienis, udara saat ini semakin tercemar oleh berbagai polutan yang berdampak terhadap kualitas lingkungan dan kesehatan mahluk hidup, khususnya manusia. Dengan adanya hutan, berbagai polutan dan partikel padat yang tersuspensi pada lapisan biosfer bumi akan dapat dibersihkan oleh tajuk pohon melalui proses jerapan dan serapan. Berbagai polutan dan partikel tersebut sebagian akan terserap masuk ke dalam stomata dan sebagian lagi akan terjerap (menempel) pada permukaan daun, khususnya daun yang permukaannya kasar. Dan juga dapat terjerap pada kulit pohon, cabang dan ranting. Manfaat dari adanya hutan ini adalah menjadikan udara yang lebih bersih dan sehat. Daerah yang merupakan tempat penimbunan sampah sementara atau permanen mengeluarkan bau yang tidak sedap. Hutan dapat bermanfaat untuk mengurangi bau karena dapat menyerap bau secara langsung, penahan angin yang bergerak dari sumber bau, dan pelindung tanah dari hasil dekomposisi sampah serta penyerap zat berbahaya yang mungkin terkandung dalam sampah seperti logam berat, pestisida serta bahan beracun dan berbahaya lainnya.
  7. Manfaat edukatif, hutan dapat bermanfaat sebagai laboratorium alam karena dapat mengenal berbagai jenis pepohonan dan satwa khususnya burung – burung yang sering dijumpai di kawasan tersebut.
  8. Habitat Satwa Hutan sering menjadi habitat jenis-jenis satwa. Lebih dari 100 jenis burung hidup disini, dan daratan lumpur yang luas berbatasan dengan hutan merupakan tempat mendaratnya ribuan burung pantai ringan migran, termasuk jenis burung langka Blekok Asia (Limnodrumus semipalmatus).
  9. Pengendapan Lumpur Tanaman pada hutan membantu proses pengendapan lumpur. Pengendapan lumpur berhubungan erat dengan penghilangan racun dan unsur hara air, karena bahan-bahan tersebut seringkali terikat pada partikel lumpur. Dengan hutan, kualitas air laut terjaga dari endapan lumpur erosi.
  10. Penambah Unsur Hara Hutan cenderung memperlambat aliran air dan terjadi pengendapan. Seiring dengan proses pengendapan ini terjadi unsur hara yang berasal dari berbagai sumber, termasuk pencucian dari areal pertanian.
  11. Penambat Racun Banyak racun yang memasuki ekosistem perairan dalam keadaan terikat pada permukaan lumpur atau terdapat di antara kisi-kisi molekul partikel tanah air. Beberapa spesies tertentu dalam hutan bahkan membantu proses penambatan racun secara aktif
  12. Rekreasi dan Pariwisata Hutan memiliki nilai estetika, baik dari faktor alamnya maupun dari kehidupan yang ada di dalamnya. Kegiatan wisata ini di samping memberikan pendapatan langsung bagi pengelola melalui penjualan tiket masuk dan parkir, juga mampu menumbuhkan perekonomian masyarakat di sekitarnya dengan menyediakan lapangan kerja dan kesempatan berusaha, seperti membuka warung makan, menyewakan perahu, dan menjadi pemandu wisata.
  13. Sarana Pendidikan dan Penelitian Upaya pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membutuhkan laboratorium lapang yang baik untuk kegiatan penelitian dan pendidikan. Hutan merupakan sarana yang tepat untuk melakukan pendidikan dan penelitian lapang.

Dampak Positif IPTEK terhadap Kelestarian Hutan

IPTEK memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan saat ini. Tentunya dengan adanya IPTEK muncul pula beberapa dampak positifyang bisa berpengaruh pada kelestarian hutan dan sumber daya kelautan. Salah satu dampak positifnya adalah dengan adanya IPTEK kita lebih mudah dalam melestarikan hutan. Untuk menjaga agar segala macam tanaman yang ada di hutan tetap hidup kita tidak perlu lagi bersusah payah. Kita dapat memberikan pupuk yang akan membantu untuk cepat tumbuh. Selain itu untuk memberinya air kita tidak lagi menyiraminya satu persatu, namun kita bisa menggunakan mobil tangki yang mengangkut air dan kita bisa menyiraminya dengan tenaga diesel. Adanya IPTEK sangatlah membantu kehidupan dan kelestarian hutan seperti contoh di atas. Kita juga berharap dengan kemajuan IPTEK hasil yang diperoleh dari perhutanan menjadi melimpah. Yang mana hal tersebut akan dapat meningatkan pendapatan negara. Namun semua itu juga bergantung pada manusianya dalam memanfaatkannya.

Dampak Negatif IPTEK terhadap Kelestarian Hutan

Adanya IPTEK ternyata tidak hanya berdampak positif, akan tetapi juga memiliki dampak negatif. Dampak negatifnya antara lain adalah semakin berkembangnya IPTEK semakin meningkatkan potensi pencurian hasil hutan, seperti kayu. Hal tersebut terjadi dikarenakan kurang sadarnya mereka tentang pentingnya hutan. Selain itu juga dikarenakan kurang adanya rasa tanggung jawab dari mereka sehingga mereka menggunakan IPTEK yang mereka miliki tidak sesuai dengan semestinya.

Jika hal tersebut terjadi terus – menerus maka akan mengakibatkan hutan menjadi gundul sehingga akan mengakibatkan erosi. Dan juga bila musim hujan akan terjadi banjir karena sudah tidak ada lagi serapan pada air. Sehingga air – air hujan yang ada akan menggenang.

Dampak Positif IPTEK terhadap Sumber Daya Laut

Tidak hanya berdampak positif pada hutan adanya IPTEK juga memberikan dampak positif pada sumber daya kelautan. Baik dalam hal untuk perdagangan maupun dalam hal pelestarian sumber daya laut itu sendiri. Dampak positif dalam hal perdagangan antara lain untuk mempermudah transportasi. Jika transportasi mudah dan dapat berjalan dengan lancar maka sistem perdagangan akan juga lancar.

Dengan adanya IPTEK para pedagang tidak lagi kesulitan untuk menyeberangi lautan. Mereka saat ini sudah bisa menggunakan tenaga mesin untuk menjalankan perahu atau kapal mereka. Sehingga waktu yang mereka gunakan untuk perjalanan lebih singkat. Jika perjalanan yang mereka tempuh singkat maka akan mereka akan semakin cepat untuk melakukan transaksi perdagangan.

Dampak positif yang lainnya adalah dalam hal pelestarian sumber daya laut itu sendiri. Dengan adanya IPTEK kita lebih mudah untuk mengetahui dan memantau apa yang terjadi di dalam laut. Sehingga dapat mencegah hal – hal yang akan dapat merusak kelestarian laut. Misalnya saja dengan adanya IPTEK bisa mengetahui dan mengidentifikasi adanya perusakan laut. Perusakan laut ini misalnya para pencari ikan yang tidak bertanggung jawab menangkap ikan dengan menggunakan bahan – bahan kimia berbahaya yang nantinya bahan – bahan tersebut akan dapat merusak ekosistem laut yang lainnya.

Kita juga berharap dengan adanya IPTEK dapat meningkatkan hasil laut. Yang nantinya akan bisa untuk membangun dan meningkatkan perekonomian. Akan tetapi semua itu kembali lagi kepada manusianya. Apakah semua manusia mau bertanggung jawab dengan adanya perkembangan IPTEK. Apakah mereka mampu dan mau menggunakan IPTEK sebagai mana mestinya.

Dampak Negatif IPTEK terhadap Sumber Daya Laut

IPTEK juga berdampak negatif pada sumber daya laut, misalnya banyaknya penangkap ikan yang liar. Tidak hanya liar mereka juga sering menggunakan bahan –bahan kimia berbahaya untuk mendapatkan hasil yang banyak pada tangkapan mereka. Misalnya saja dengan menggunakan bom, mereka akan mendapatkan banyak ikan bahkan bukan hanya ikan tapi semua ekosistem yang ada di laut ikut tertangkap. Akan tetapi bahan – bahan yang ada dalam rakitan bom tersebut akan merusak habitat laut.

Habitat laut yang rusak akan mengurangi sumber daya laut yang ada. Ikan akan berkurang mereka banyak lari ke tempat ( laut ) yang lain yang lebih aman. Tentunya hal tersebut merugikan nelayan yang biasanya menangkap ikan dengan prosedur yang benar. Jika sudah seperti itu maka siapa yang disalahkan dan siapa yang bertanggung jawab atas semua kerugian yang ada. Sejauh ini yang bertanggung jawab atas kerugian yang ada adalah pemerintah ini akan mengakibatkan turunnya perekonomian.

Upaya Untuk Mengurangi Dampak Negatif Dari Perkembangan Iptek Terhadap Kelestarian Hutan Dan Sumber Daya Laut

Semua yang terjadi seperti contoh di atas dapat diatasi dengan beberapa cara. Di antaranya adalah dengan memberikan sosialisasi dan pengarahan tentang bagaimana cara menggunakan teknologi yang baik dan benar. Karena dengan memberikan sosialisasi masyarakat akan lebih tahu dan mengerti tentang teknologi dan cara penggunaannya.

Bisa juga dengan cara meningkatkan pengawasan terhadap lingkungan. Apalagi dengan adanya perkembangan IPTEK banyak terjadi pencurian – pencurian hasil alam. Maka pemerintah harus lebih ekstra dalam mengawasinya sehingga hal – hal tersebut tidak lagi terjadi. Karena hal tersebut merupakan salah satu faktor yang menyebabkan kerusakan alam kita.

Upaya yang lainnya dapat dilakukan dengan cara meningkatkan kinerja pemerintah bidang perhutanan dan kelautan. Dengan meningkatkan kinerja mereka setidaknya mengurangi sedikit resiko – resiko yang akan menimbulkan kerugian yang diakibatkan penyalahgunaan teknologi.

DAFTAR PUSTAKA

Depdikbud. 1989. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.

Tim FMIPA-UNESA. 2007. Sains Dasar. Surabaya : Unesa University Pers.

http://Downloads/IPTEK%201.fileDDownloadsIPTEK%25201.htm.htm

http://web.ipb.ac.id/~dedi_s/index.php?option=com_content&task=view&id=22&Itemid=50

http://www.lfip.org/english/pdf/bali-seminar/pemberdayaan%20sumber%20daya%20kelautan%20-%20tridiyo%20kusumastanto.pdf

http://abiwibowo.ngeblogs.com/2009/10/07/laut-sebagai-salah-satu-sumber-daya-alam/

http://deslisumatran.wordpress.com/2010/03/13/fungsi-dan-manfaat-hutan-kota/

http://pakarbisnisonline.blogspot.com/2009/12/fungsi-dan-manfaat-hutan-bakau.html

http://bataviase.co.id/detailberita-10397820.html

http://www.scribd.com/doc/25288898/DAMPAK-POSITIF-DAN-NEGATIF-DARI-PERKEMBANGAN-IPTEK

http://www.docstoc.com/docs/19922578/pemberdayaan-sumber-daya-kelautan—tridiyo-kusumastanto-sumber-httpwwwlfiporgenglishpdfbali-se/

http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://dhjohnson.blogspot.com/2005/03/negative-impacts-of-technology.html

http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://www.oppapers.com/essays/Negative-Effects-Technology/45405

Cara berkomunikasi Rasulullah

Rasullullah SAW adalah sosok yang fasih berbicara.
Sedikit bicara namun penuh makna, mudah dimengerti,
dan tidak menyinggung perasaan orang yang diajak berbicara.

♦♦♦
Berkomunikasi adalah hal yang penting dalam hubungan antara manusia, bahkan di masa kini, komunikasi sangat menentukan sukses tidaknya seseorang dalam segala sisi kehidupan. Rasulullah SAW adalah seorang komunikator yang handal. Seorang teladan luar biasa yang sepantasnya kita tiru.

Berikut ini adalah beberapa tips yang diangkat dari teladan beliau dalam berkomunikasi:

  • Rasullullah SAW adalah sosok yang fasih berbicara. Sedikit bicara namun penuh makna, mudah dimengerti, dan tidak menyinggung perasaan orang yang diajak berbicara.
  • Ketika ada yang salah dan harus dihukum, maka hukumlah dengan adil tanpa harus menghinakannya.
  • Berikan motivasi perbaikan diri kepada orang yang dihukum dan sudah menyesali kesalahannya, bukan malah menghina atau mencemoohnya.
  • Berkatalah yang baik ketika mendapat musibah. Lakukan introspeksi, tidak menyalahkan siapapun, apalagi menghujat Allah SWT.
  • Berkatalah yang baik atas orang yang sudah meninggal, kecuali untuk penulisan sejarah, boleh ditulis sewajarnya berdasarkan fakta yang ada.
  • Berbicara yang baik kepada yang bukan ahli waris (tidak mendapat waris)
  • Rasulullah SAW berpesan kepada perempuan untuk berbicara dengan cara yang baik dengan tidak mempermainkan suaranya.
  • Ketika ditanya, “Siapa Anda?”, maka sebutkan nama kita, jangan hanya “Aku!”, atau “Saya!”.
  • Berdakwah dengan cara yang terbaik yaitu dengan lemah lembut. Kalaupun harus berdebat, lakukan dengan cara yang paling baik.
  • Berkata yang baik pada saat khitbah (meminang) seorang wanita.
  • Berkata yang baik saat memegang amanah, misalnya ketika mendapat kepercayaan menjadi pimpinan atau memegang suatu tanggung jawab penting.
  • Sabar dan tiada batasan untuk sabar. Sabar tidak berbatas, kita sendirilah yang membatasinya.
  • Ketika mendapati diri mendapat fitnah maka ketika diklarifikasi maka lakukanlah dengan sabar. Jika memungkinkan, nasehatkan kebenaran kepada orang yang menyebarkan fitnah tersebut agar tersadar dari kesalahannya. Bagaimanapun, jika kebaikan kita dibalas dengan keburukan lalu kita seolah tidak peduli, maka ibaratnya kita sedang memberikan bara api kepada orang tersebut. Adalah kewajiban kita untuk menasehatinya, minimal mendoakannya agar suatu saat diberikan hidayah oleh Allah.

Sungguh perbuatan yang mencerminkan akhlak mulia memberikan efek yang jauh lebih dahysat dibandingkan dengan sekadar lisan. Siapkah diri kita untuk mengamalkan akhlak seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW baik dalam bertutur kata maupun berbuat? Insya Allah[jhu]

 

 

 

http://sahabatstars.wordpress.com/2012/12/20/berkomunikasi-cara-rasulullah-saw/

Jadwal UN dan POS UN 2013

Jadwal UN dan POS UN 2013

tunas63

UN 2012/2013 dimulai dari tingkat SMA/MA/SMK/SMALB yaitu 15 s.d. 18 April , kemudian SMP/MTs/SMPLB tanggal  22 s.d. 25 April  dan berikut jenjang SD/MI/SDLB tanggal 6,7,8 Mei.

Kemudian untuk jadwal ujian susulan sebagai berikut:

  •  SMA/MA/SMK/SMALB = 22 s.d. 25 April
  • SMP/MTs/SMPLB = 29 April s.d. 2 Mei
  • SD/MI/SDLB = 13, 14, 15 Mei

POS UN SMP/MTs/SMPLB, SMA/MA/SMK/SMALB diatur dengan Peraturan BSNP 0020/P/BSNP/I/2013 dan POS UN SD/MI/SDLB diatur dengan Peraturan BSNP 0021/P/BSNP/I/2013. Kedua peraturan ini ditetapkan pada 29 Januari 2013.

POS UN mengatur segala ketentuan penyelenggaraan dan pelaksanaan UN, antara lain:

  • syarat peserta
  • jadwal UN
  • kelulusan UN
  • syarat sekolah penyelenggara UN
  • pengaturan ruang UN
  • tata tertib peserta dan pengawas
  • soal ujian

Bila berminat memiliki POS UN 2012/2013, dapat diunduh di sini

 

Lihat pos aslinya

Kebijakan Perdagangan

oleh : Mudrajad Kuncoro Guru Besar Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM

Krisis di Eropa dan AS mulai mengganggu kinerja ekspor Indonesia. Neraca perdagangan Indonesia Agustus 2012 hanya surplus 248,5 juta dollar AS, sedikit membaik dari Juli yang sempat defisit 263,8 juta dollar AS.
Neraca perdagangan Januari-Agustus 2012 masih surplus 496,7 juta dollar AS, tetapi jauh lebih rendah daripada surplus 2011 (19,8 miliar dollar AS). Menyusutnya surplus disebabkan menurunnya surplus perdagangan nonmigas yang hanya 2,1 miliar dollar AS dan defisit perdagangan migas 1,6 miliar dollar AS. Tanpa ada reformasi mendasar dalam strategi perdagangan nasional, tren merosotnya kinerja perdagangan akan terus berlanjut.
Di tengah suramnya kondisi ekspor Indonesia ke AS dan Eropa, ekspor nonmigas Indonesia ke emerging markets Januari-Agustus 2011-2012 tumbuh pesat. Ekspor nonmigas Indonesia ke Pantai Gading meningkat 295 persen dengan nilai 73,4 juta dollar AS pada semester I-2012. Ekspor nonmigas Indonesia juga meningkat pesat ke beberapa emerging market lain, seperti Libya (374 persen), Guinea (286 persen), Mauritania (278 persen), Macedonia (272 persen), Laos (259 persen), Haiti (208 persen), Etiopia (153 persen), Nikaragua (138 persen), dan Liberia (131 persen).

Mitra dagang yang masih memberikan surplus besar pada neraca perdagangan kita, antara lain India, Belanda, Filipina, Malaysia, dan Spanyol. Singkatnya, masih ada peluang menggarap pasar yang selama ini tak digarap serius oleh eksportir dan pebisnis Indonesia. Peluang meningkatkan kerja sama perdagangan ”selatanselatan” masih terbuka lebar.

Pertengahan Oktober ini, Jakarta jadi tuan rumah World Export Development Forum (WEDF), konferensi internasional yang diselenggarakan International Trade Center (ITC). ITC adalah organisasi bentukan WTO dan PBB, tujuannya memajukan dunia usaha di negara berkembang. Indonesia, menurut Direktur Pelaksana ITC Patricia Francis, dipilih sebagai tuan rumah karena sebagai negara dengan pertumbuhan pasar tercepat di dunia, Indonesia bisa menjadi contoh negara lain dalam ekspansi perdagangan. Sebagai pemain utama di ASEAN, Indonesia juga menunjukkan kekuatan dan daya tahan menghadapi krisis global.

WDEF bertujuan mengidentifikasi peluang pertumbuhan perdagangan intrakawasan dan mengatasi hambatan perdagangan, yang pada gilirannya dapat menciptakan hubungan perdagangan global yang kian kompetitif. Dengan tema ”Linking Growth Markets, New Dynamic in Global Trade”, konferensi diharapkan menghasilkan output soal bagaimana meningkatkan pertumbuhan ekspor global dengan peningkatan daya saing serta teridentifikasinya hambatan perdagangan yang akan dihadapi negara yang tergolong naik daun dan sedang berkembang.

Reformasi kebijakan

Bagaimana arah kebijakan perdagangan Indonesia? Menteri Perdagangan Gita
Irawan Wirjawan mengatakan, tahun 2012 prioritas Kementerian Perdagangan mencakup peningkatan ekspor dan peningkatan daya beli masyarakat. Kebijakan perdagangan luar negeri diarahkan pada peningkatan daya saing produk ekspor nonmigas lewat diversifikasi pasar serta peningkatan keberagaman dan kualitas produk ekspor.

Di tengah krisis Eropa dan AS yang belum terlihat kapan berakhirnya, perlu reformasi atau terobosan kebijakan. Kita perlu lebih proaktif dan jeli melakukan total strategi global. Harus diakui, strategi diversifikasi pasar kita masih ”setengah hati”. Pasar utama ekspor kita masih ke China, Jepang, AS, India, dan Singapura. Total ekspor nonmigas ke 10 negara utama 71,9 miliar dollar AS, sementara ke 10 emerging market hanya 318,2 juta dollar AS. Ekspor ke 10 mitra dagang utama turun kecuali ke China, Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan. Sementara ekspor ke emerging market naik signifikan meski nilai relatif kecil. Ini tak banyak berubah sejak 2004.

Bila serius ingin menggarap pasar ”nontradisional”, Kemendag perlu lebih mengoptimalkan market intelligence di semua negara, khususnya di mana produk ekspor kita punya daya saing. Pemerintah perlu mengoptimalkan keberadaan Indonesian Trade Promotion Center dan konsul perdagangan di semua negara untuk identifikasi peluang pasar, informasi kebutuhan produk, hambatan perdagangan, jaringan distribusi dan logistik. Implementasi rencana strategis Kemendag perlu diintegrasikan dengan Master Plan Percepatan dan Perluasan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Strategi diversifikasi pasar dan produk ekspor tak akan berhasil bila masalah ekonomi biaya tinggi di dalam negeri tak dibenahi. Interkonektivitas antara pusat-pusat produksi produk ekspor dengan bandara dan pelabuhan laut masih banyak menghadapi hambatan, seperti pungutan liar, minim, buruknya infrastruktur jalan, tingginya biaya terminal handling charges, serta biaya logistik.

Peran penting MP3EI difokuskan pada percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi nasional di enam koridor: Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, dan Papua Maluku. Aktivitas utama keenam koridor adalah membangun pusatpusat pertumbuhan di setiap koridor dengan mengembangkan kluster industri dan/atau kawasan ekonomi khusus yang berbasis sumber daya/komoditas unggulan. Artinya, pengembangan koridor perlu diintegrasikan dengan pengembangan kluster dan kawasan yang berbasis kompetensi inti daerah. Best practices—seperti program one village one product di Jepang, one tambon one product Thailand, cluster wine di California, dan industri kulit di Third Italy—bisa jadi rujukan untuk mengembangkan komoditas serta sektor unggulan.

Strategi Kemendag dalam meningkatkan keberagaman, daya saing, dan kualitas produk ekspor masih perlu dipertajam. Produk ekspor utama Indonesia ke mitra dagang utama masih terkonsentrasi di batubara, karet, minyak sawit, dan mesin/peralatan listrik, bijih logam, kayu, kendaraan dan bagiannya, timah, pakaian jadi bukan rajutan, besi dan baja, serta berbagai produk kimia. Produk ekspor ke emerging market masih meliputi batubara, buku dan barang cetakan, serat stapel buatan, produk farmasi, kertas, karet, minyak sawit, sabun, kendaraan, dan bagiannya, serta daging dan ikan olahan. Pangsa 15 produk utama terhadap total ekspor nonmigas masih 59 persen, umumnya berbasis buruh murah dan SDA.

Kelemahan mendasar produk ekspor kita adalah masih sangat tinggi kandungan impor bahan baku, bahan antara, dan komponen. Kandungan impor 28-90 persen. Dengan kata lain, strategi substitusi impor perlu digalakkan. Krisis kedelai di Indonesia belum berakhir. Krisis kedelai ini harusnya dijadikan momentum untuk peningkatan produksi kedelai dalam negeri, terutama di sentra penghasil kedelai, dan meninjau ulang tata niaga kedelai.
Pemerintah perlu menyelamatkan produk Indonesia yang lemah atau menurun daya saingnya. Survei membuktikan hanya 7 persen produk manufaktur Indonesia yang kuat melawan banjirnya produk impor, terutama dari China. Studi Mudrajad Kuncoro (2011) dan Tri Widodo (2009) menemukan adanya perubahan keunggulan komparatif kelompok produk yang tak memiliki atau memiliki keunggulan komparatif rendah pada masa lalu. Pola keunggulan komparatif ASEAN, termasuk Indonesia, ternyata mengikuti Jepang karena ASEAN mulai kehilangan keunggulan komparatif dalam kelompok produk tradisional berbasis pertanian dan SDA.

Strategi ekspor kita perlu diubah menjadi berbasis keunggulan kompetitif, yaitu bergeser dari produk berbasis buruh murah dan kaya SDA menjadi berbasis tenaga kerja terampil, padat teknologi, dan dinamis mengikuti perkembangan pasar. Tanpa perubahan mendasar dalam strategi perdagangan, kinerja perdagangan kita bisa kian memburuk dan Indonesia akan jadi penonton, bukan pemain, pada era Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015.

Sumber : Kompas, 22 Oktober 2012

Kaji Ulang Otonomi Daerah

oleh:                                                                                                                                                                                                                         Prof.Ahmad EraniYustika,                                                                                                                                                                                   Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya; Direktur Eksekutif Indef

Paradoks Otonomi Daerah
Dari tinjauan ekonomi sekurangnya terdapat empat paradoks otoda yang laik dipertanyakan secara saksama. Pertama, desentralisasi dimaksudkan untuk menggeser sentralisasi pembangunan ke luar Jakarta (atau secara umum luar Jawa) sehingga beban ekonomi dan penduduk bisa disebar ke daerah-daerah lain. Namun, alih-alih hal itu terjadi, otoda justru makin memerkuat peran perekonomian Jawa (dan Sumatera) dalam konfigurasi perekonomian. Sekarang, sekitar 82% PDRB (produk domestik regional bruto) Indonesia dikuasai oleh dua pulau tersebut, yang makin meningkat seiring implementasi otoda. Kedua, semangat desentralisasi juga dipahami untuk mengurangi peran campur tangan pemerintah (baik pusat maupun daerah) dalam perekonomian. Fungsi regulasi tetap harus dijalankan, namun hanya terhadap aspek-aspek yang memang betul-betul diperlukan agar tidak disinsentif bagi perekonomian. Tapi, sejak otoda diselenggarakan, kurang lebih terdapat 13 ribu perda (peraturan daerah) bermasalah dan sekitar 4000 yang telah dibatalkan oleh Kementerian Keuangan dan Kementerian Dalam Negeri.

Ketiga, otoda secara implisit mengharapkan adanya partisipasi kegiatan ekonomi yang lebih luas kepada masyarakat, sehingga peran pemerintah daerah (lewat APBD) makin mengecil. Sayangnya, ketergantungan beberapa daerah terhadap APBD juga tidak mengecil meskipun desentralisasi ekonomi telah berjalan hampir 12 tahun. Di beberapa provinsi dan kabupaten, nyaris ekonomi bergerak dengan topangan belanja pemerintah daerah. Pengusaha hidup dari proyek-proyek pemerintah, seperti pembangunan infrastruktur. Keempat, otoda secara eksplisit memberi ruang yang besar bagi daerah untuk mendesain kebijakan dan menjalankan program sehingga model penyeragaman kebijakan (yang disodorkan pemerintah pusat) sudah tidak terjadi lagi. Tapi, harapan itu nyatanya tidak seluruhnya benar, sebab beberapa program vital, seperti kemiskinan, masih dikuasai oleh pemerintah pusat. Pemerintah daerah cuma diberi ruang sedikit untuk memodifikasi konsep yang didesain oleh pusat.

Perubahan Gradual
Implikasi dari paradoks-paradoks di atas menimbulkan masalah yang cukup pelik untuk dipecahkan. Misalnya, pada 2011 masih ada sekitar 23 provinsi yang mendapat bagian (share) PMA kurang dari 1%, bahkan 16 provisi bisa dikatakan nyaris tidak mendapatkan bagian karena porsinya kurang dari 0,2% (BKPM, 2012). Pola yang sama persis juga terjadi dalam proporsi penanaman modal dalam negeri (PMDN). Ini tentu menyedihkan sekaligus menerbitkan pertanyaan fundamental: akankah otoda masih memiliki peluang untuk mendistribusikan pembangunan antardaerah? Berikutnya, akibat disparitas pembangunan/investasi antardaerah tersebut menyebabkan perputaran uang/modal juga terkonsentrasi di Pulau Jawa saja. Tengok saja, DKI Jakarta pada 2011 menguasai 50,9% dana pihak ketiga dan menggenggam 49,1% kredit perbankan, selanjutnya diikuti Jatim dan Jabar masing-masing dalam kisaran 7-9% (BI, 2012). Bisa dibayangkan, bila modal bank tak tersedia, maka pembangunan kian muskil dilakukan.

Harapan pembangunan daerah akhirnya bertumpu kepada anggaran pemerintah daerah (APBD). Masalahnya, struktur APBD dalam banyak hal jauh lebih parah dari APBN. Studi yang dilakukan oleh The Asia Foundation (2011) menunjukkan pada 2007 sekitar 65% dana transfer dalan bentuk DAU (dana alokasi umum) habis untuk belanja PNS, yang kemudian pada 2010 melonjak menjadi 95%. Data dari Kementerian Keuangan (2011) juga menunjukkan selama periode 2007-2011 rata-rata pertumbuhan belanja pegawai sebesar 29%, belanja barang 20%, belanja modal 9%, dan belanja lainnya 19%. Padahal belanja modal itulah yang diharapkan bisa menstimulus pembangunan daerah, misalnya untuk alokasi infrastruktur. Studi Indef (2011) juga menemukan, jika belanja daerah (APBD) dinaikkan 10%, maka hanya menyumbang kenaikan pertumbuhan ekonomi sebesar 0,06%. Jika DAU dan DAK (dana alokasi khusus) ditingkatkan 10%, maka donasi terhadap kenaikan pertumbuhan ekonomi daerah lebih kecil lagi, yaitu 0,03% dan 0,02%.

Deskripsi itu rasanya cukup untuk melakukan kaji ulang terhadap konsep otoda, tidak saja secara politik tetapi juga ekonomi. Pemerintah tidak harus melakukan perombakan secara drastis, tapi opsi perubahan secara gradual lebih mungkin untuk diambil. Beberapa hal penting yang perlu dilakukan antara lain: (i) adanya pembatasan alokasi belanja pegawai sehingga ruang APBD untuk pembangunan masih memadai. Gagasan ini tentu harus diikuti dengan langkah reformasi birokrasi; (ii) formula dana transfer sebaiknya ditambahkan dengan variabel beban daerah terbelakang, misalnya kemiskinan, pengangguran, dan ketertinggalan infrastruktur; tidak cukup beban itu ditutup dengan alokasi DAK; (iii) moratorium investasi asing (PMA) di Pulau Jawa, tentu disertai dengan percepatan pembangunan infrastruktur di luar Jawa; dan (iv) mengembalikan kewenangan izin investasi SDA ke pemerintah pusat karena konsesi eksplorasi SDA selama ini diberikan secara ugal-ugalan sehingga merusak lingkungan. Tentu saja, ada hal-hal lain di luar ide ini yang masih perlu didalami lebih lanjut.

Sumber: jawapos – 26 september 2012

Basmalah, Kalimat Keramat Yang Sering Terlewat dan Terlupa Maknanya

Basmalah, Kalimat Keramat Yang Sering Terlewat dan Terlupa Maknanya

mendekatlah pada ISLAM lebih dekat lagi

http://2.bp.blogspot.com/-TUOth2eTkgA/ULNl1dg1awI/AAAAAAAAEJI/BntcUeofOHc/s1600/berdoa-pic%5B1%5D.jpgKalimat sederhana dan paling populer adalah kalimat basmalah atau bismillah. Meski demikian ia kalimat paling keramat dan paling agung. Bagaimana tidak, kalimat yang lafadl lengkapnya “باسم الله الرحمن الرحيم” (bismillahirrahmanirrahiim) diulang sebanyak 114 kali di dalam Al-Quran di setiap awal surat Al-Quran (kecuali di awal surat At-Taubah).

Namun sayangnya, kebanyakan kita lebih sering menganggapnya enteng, ringan dan sederhana saja. Bahkan seringan aktivitas kita terlewat tanpa mengawalinya dengan basmalah. Makan, minum, keluar rumah, dan memulai pekerjaan-pekerjaan lain tanpa basmalah. Jika diucapkannya pun seakan menjadi rutinitas tanpa pemaknaan mendalam akan maknanya.

Dalam bahasa Arab kata basmalah disebut redaksi naht yakni istilah yang diambil dari rangkaian dua kata atau lebih yang menjadi satu yakni bi-ismu-Allah agar lebih mudah diucapkan. Seperti kata orang Hadlramaut disingkat menjadi Hadlramy. 

Lihat pos aslinya 696 kata lagi